Jumat, 17 Mei 2013

Pain Killer

Pain. You just have to ride it out, hope it goes away on its on. Hope the wound that caused it heals. There are no solutions, no easy answers. You just breath deep and wait for it subside. Most of the time pain can be managed, but sometimes the pain gets you when you least expect it, hits way below the belt and doesn't let up. - Meredith Grey on Grey's Anatomy Season 2 Episode 5 "Bring The Pain".  

"Dok, tolong dikasih resep obat pain killer yah," kata saya pada bu dokter di UGD Senin lalu. Untungnya tidak ada patah atau retak di tulang saya. Utungnya juga bukan syaraf yang terkena dampak benturan antara pantat dan pinggang saya dengan batu Sungai Amprong. "Palingan ini cuma ototnya aja," kata bu dokter lagi. Saya meminta obat pain killer alias pereda rasa nyeri karena dua hari berikutnya saya harus terbang ke Aceh *pamer sok sibuk. "Tapi ini pain killer-nya diminum kalo butuh aja ya. Kalo nyeri aja, kalo engga, ya gausah diminum," pesan bu dokter.

Gambar diambil dari sini.

Senin, 13 Mei 2013

Mother, How Are You Today?

Happy Mother's Day! Selamat Hari Ibu untuk semua Ibu di dunia.

Selamat Hari Ibu untuk nyokap gue. Hubungan gue sama nyokap bisa dibilang banyak ups and downs-nya. Ada momen-momen dimana gue sering banget berantem sama nyokap. Lebih tepatnya ketika jaman gue masih aktif jadi volunteer di salah satu organisasi. Karena beberapa kegiatan gue sering pulang malem dan kadang nginep. Gue sebagai anak tunggal sering banget dikhawatirin sama nyokap. Sementara gue cukup bandel dan cuek. Wajar sih sebenernya kalo orangtua khawatir, anak satu-satunya dan perempuan pula.

Sebenernya kalo dipikir-pikir gue sama nyokap itu hampir mirip sifatnya. Terlalu sering cemas sama khawatir hal-hal yang ga penting, negative thinking, control freak, dll. Tapi dalam beberapa hal, gue sama nyokap banyak bertentangan. Yang namanya orangtua pasti punya harapan dan kadang ekspektasi sama anaknya. Nyokap maunya gue jadi pekerja kantoran, wanita karir yang punya penghasilan lebih dari cukup dan siap nikah di usia 26. Faktanya, saat ini gue ga punya kerjaan tetap, belum punya keinginan untuk berkantor dan masih pingin traveling. Nikah usia 26? Sekarang aja masih single, Mblo belum ada pacal. Nyokap juga pingin gue seperti wanita normal pada umumnya. Sementara gue anomali deh kayanya, cuek banget sama penampilan dan males make-up.

Nyokap gue keren meskipun dia bawel. Dia pekerja keras, paling gabisa diem dan gabisa leyeh-leyeh. Padahal pulang dari toko udah cape banget tapi pulang ke rumah masih aja masak dan ngerjain kerjaan rumah.

Waktu hamilin gue, nyokap menderita banget katanya. Dia keracunan kehamilan. Setiap makanan atau minuman yang masuk pasti keluar lagi. Nyokap sampe kurus kering kerontang. Doi sering banget ngomong "Waktu hamilin kamu, susah banget menderita banget sekarang udah gede masih aja nyusahin."

Satu saat gue akan nyenengin nyokap (dan bokap pastinya) meskipun mungkin itu ga sesuai dengan harapan atau ekspektasi mereka. Dan meskipun nyokap sering ngerasa gue ga sayang dan ga perhatian ama dia, I do love her.

"Sometimes we love people who hurt us and hurt people who love us." So why don't you love people who love you and your mum and dad are definitely people who love you eventho you hurt them. And thats what they called unconditional love, mate!

Ditulis saat sedang berbaring di bed 2, diiringi suara tangisan bayi. UGD Rumah Sakit Saint Carolus, Jakarta.

posted from Bloggeroid

Minggu, 12 Mei 2013

Di Atas Kereta Matarmaja part II

Lagi-lagi saya sedang duduk di atas kereta Matarmaja saat menuliskan ini, kali ini perjalanan pulang menuju Jakarta. Untunglah perjalanan tidak dibumbui perbaikan genset dan delay 3 jam. Tapi buntungnya adalah saya harus pulang dengan kondisi memprihatinkan :(( *drama.

No pain no gain katanya. Dan pain yang macam ini sudah lama sekali tidak saya rasakan. Terakhir kali waktu SD, tangan kiri saya bengkak seperti bakpau. Kali ini bukan tangan, tapi pinggang dan pantat yang jadi korban. Saya terjatuh pada saat rafting dan pantat tepos ini sukses dicumbu bebatuan Sungai Amprong. :((
Shit happens sometimes. Indeed! Even this kind of shit yes they do happen, Sheila! But I think of it as a reminder from Dear Lord when you get too cokcy or f*ckin arrogant or anything else. And hopefully this too shall pass. Cause not being able to move your body as freely as usual is killing me.

Anyway, lets pass that I dont want to be anak mami. Saat ini saya duduk di gerbong restorasi. Menjelang subuh. Kawan seperjalanan sudah terlelap dan saya seperti biasa gagal tidur. Bagaimana tidak? Saya diapit oleh dua lelaki asing, terjebak di tengah-tengah dan nyeri sesekali datang menyengat yang membuat saya ingin menangis seperti bayi.

Pilihan untuk pindah ke gerbong restorasi ternyata pilihan yang tepat. Di seberang saya duduk seorang bapak petugas bagian teknis dan di samping saya sepasang kekasih dari Malang. Like I always said, everybody has stories and there's no other way to know someone than to travel together with them. Well mungkin saya tidak officialy traveling bersama dengan bapak teknisi kereta dan sepasang lovebird tadi tapi dari percakapan kami sekitar 3 jam banyak sekali hal yang didapat.

Kami berbicara tentang carut marutnya manajemen PT KAI yang akhirnya berujung pada tips membeli tiket kereta. Datanglah ke gerai swalayan pada pukul 12 malam jika kamu ingin memesan tiket dengan jumlah banyak bahkan bisa booking 3 gerbong sekaligus kalau mau. Jangan harap bisa pesan tiket dengan mudah pada siang hari di gerai swalayan tersebut.

Kami juga berbicara mengenai nasib buruh dan bagaimana karyawan di PT KAI ini ada yang berstatus PNS, kontrak dan outsourcing serta gagalnya rencana pergerakan memulai serikat karena adanya penjilat yang ingin naik pangkat.

Tak lepas dari berita terkini tentang Susno Duaji dan Eyang Subur, kami juga asik membahas dunia politik dan aliran sesat yang ternyata pernah diikuti oleh si bapak yang sekarang sudah tobat. Berlanjut tentang wanita yang silau harta dan pasangan yang tak setia yang membawa kami pada cerita hidup si bapak yang ternyata sudah tiga kali menikah.

Percakapan yang sangat random hingga menuju pada informasi tentang bagaimana pare bisa menjadi obat mujarab untuk menghilangkan racun dalam tubuh dan menyembuhkan sakit liver. Juga tentang bagaimana niat adalah menjadi kunci dari segalanya termasuk niat berhenti minum alkohol bagi seorang pecandu.

Masih banyak hal-hal yang kami bicarakan. Sangat random. Dan itulah yang membuat setiap perjalanan menjadi menarik. Every single beautiful soul that you met along the way yang hanya berbagi momen dalam sekejap tapi bisa membawa pengertian lebih tentang hidup.

Sudah hampir pukul empat dan semoga kereta ini segera merapat karena mata sipit saya sudah tak kuat dan badan ini mendambakan kasur dengan sangat. :)

Matarmaja, 12 Mei 2013.

posted from Bloggeroid

Jumat, 10 Mei 2013

Di Atas Kereta Matarmaja

Saat menuliskan ini saya sedang berada di kereta Matarmaja. Lewat tengah malam. Suara dengkuran rekan saya terdengar cukup kencang, pedagang kopi dan popmi sibuk mondar mandir sementara saya sibuk mencari cara untuk bisa terlelap.

Ini adalah Matarmaja yang ketujuh kalinya buat saya. Buat saya kereta adalah salah satu moda transportasi yang menarik untuk bepergian. Memang waktu yang dibutuhkan lebih lama tapi tentu lebih cepat jika dibandingkan dengan bus dan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan bis.

Cara yang terbaik untuk mengenal seseorang adalah dengan bepergian bersama. Berada di atas kereta selama 18 jam termasuk salah satunya. Saya ingat betul pertama kali naik Matarmaja pada Maret 2012 lalu dari Malang menuju Bromo. Ada seorang perempuan mungkin seumuran dengan saya, ia sendirian dan duduk di deretan bangku belakang saya. Di deretan bangkunya laki-laki semua dan kurang dari 18 jam sebelum sampai di Jakarta sang perempuan sudah mendapatkan layanan pijat gratis dari kawan barunya.

Di atas Matarmaja semua punya cerita. Karyawan yang jenuh dengan ibukota dan hendak melepas penat, anak yang rindu dengan kampung halaman dan orangtua serta sanak saudara, orangtua yang baru saja menyambangi sang buah hati yang sukses dapat kerja di Jakarta, pedagang asongan yang sering dicerca tapi kadang dicari, pengamen tidak tahu diri yang bernyanyi nyaring padahal matahari belum juga muncul. Delapan belas jam yang banyak menyisakan cerita.

Sepertinya hanya di kereta saja saya bisa seperti ini. Di pesawat, jarang sekali saya mengobrol dengan penumpang sebelah. Biasanya sibuk dengan gadget masing-masing atau terlelap lalu tak lama kemudian kami sudah sampai di tujuan. Di bus, jika ada penumpang di sebelah saya terutama pria biasanya saya justru merasa was-was. Ruang gerak lebih sempit belum lagi ditambah jika jalanan macet. Kereta menjadi moda yang spesial buat saya. Kapan ya kira-kira bisa naik kereta di Eropa? Lima tahun lagi, semoga atau setidaknya menjelajah Asia dulu saja. Vietnam punya pemandangan yang menarik sepanjang perjalanan keretanya kata mereka. Oh dan India. Tentunya harus dicoba naik kereta di negara Taj Mahal yang mempesona. Suatu hari ya, semoga. Untuk sementara mari nikmati Matarmaja di Indonesia. Dan tentunya, senja.

Selasa, 07 Mei 2013

24 - 25

Day 3. #ABlogpostADay Tulisn ini merupakan bagian dari #ABlogpostADay 31 Days in May, sebuah usaha gue untuk lebih rajin menulis. Instead of ikut-ikutan posting foto di instagram dengan #30DaysChallenge gue memutuskan untuk bikin challenge menulis setiap hari di blog ini.

Here I am. 6 Mei 2013 dan masih stuck di Day 3. Utang 2 postingan. It turns out menulis dua halaman setiap hari itu lebih susah dari yang gue duga. Hampir mirip sama pacaran, butuh komitmen #eeaaa.

Akhir-akhir ini gue lagi sering banget dengerin salah satu lagunya Kings of Convenience yang judulnya sama kaya judul post ini. 24 -25. Gue bisa dengerin lagu ini berulang-ulang sampe akhirnya gue ketiduran. Biar makin berasa, bisa juga dengerin lagunya sambil baca postingan ini.


Somehow ada bagian dari lagu ini yang bisa relate banget sama hidup gue sekarang. 24 -25. Sesuai dengan usia gue saat ini. 24 tahun menuju 25 tahun. Hampir seperempat abad.
Twenty four and blooming like the fields of May.
Twenty five and yearning for a ticket out.